Warm Heart, Warm Taste Berawal dari Sebuah Pohon Eshel Mengapa restoran kami bernama ESSEL?

 


Banyak orang bertanya kepada saya,

“Apa arti nama ESSEL?”

Nama ini sebenarnya bukan dibuat sebagai strategi marketing ketika kami membuka restoran.

Jauh sebelum restoran ESSEL berdiri, nama ini sudah saya simpan di dalam hati.

Semuanya berawal ketika saya mengenal Tuhan dan mulai membaca Alkitab.

Pohon yang saya temukan dalam Kitab Kejadian

Ada satu pohon yang sangat membekas bagi saya.


Namanya pohon Eshel.

Dalam Kejadian 21:33, Abraham menanam pohon Eshel di Bersyeba dan di sana memanggil nama Tuhan yang kekal.

Ayat itu membuat nama Eshel tinggal lama dalam pikiran saya.

Namun bukan hanya karena pohon itu disebut di dalam Alkitab.

Pohon ini dapat hidup di daerah yang panas dan kering.

Daunnya memiliki mekanisme untuk mengeluarkan garam sehingga kristal-kristal kecil dapat terbentuk di permukaan daun. Kristal tersebut dapat membantu memantulkan sebagian sinar matahari, sementara cabang dan daunnya yang rapat memberikan keteduhan di tengah panas.

Setiap kali membayangkannya, saya melihat satu gambaran.

Seorang musafir yang sudah lama berjalan di bawah terik matahari,

kemudian duduk di bawah pohon Eshel,

berteduh, mendinginkan tubuh,

dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Saya sangat menyukai gambaran itu.

“Kalau suatu hari saya membuka restoran…”

Saat membaca dan memikirkan pohon itu, saya pernah berkata dalam hati:

“Kalau suatu hari saya membuka restoran, saya ingin memakai nama ini.”

Karena saya juga ingin membuat sebuah restoran seperti pohon Eshel.

Tempat di mana seseorang yang datang setelah menjalani hari yang melelahkan dapat duduk dengan nyaman.

Makan sesuatu yang hangat.

Mengobrol dengan keluarga.

Tertawa bersama teman.

Dan untuk sementara waktu merasa lebih tenang.

Saya ingin setiap orang yang masuk ke ESSEL merasakan sesuatu seperti seorang musafir yang menemukan tempat berteduh.

Menjadi tempat istirahat bagi orang yang datang kepada kami.

Itulah salah satu hati paling awal dari ESSEL.

Nama pertamanya adalah ESSEL TREE


Karena itulah nama brand kimchi yang saya buat lebih dahulu adalah

ESSEL TREE.

Ketika membuat kimchi pun saya memiliki pemikiran yang sama.

Membuat makanan dengan sungguh-sungguh,

membagikannya kepada orang lain,

dan membuat meja makan seseorang terasa sedikit lebih hangat.

Kemudian ketika kami membuka restoran, tentu saja saya ingin menggunakan nama ESSEL TREE juga.

Namun dalam proses pendaftaran nama usaha, kami menghadapi kendala terkait penggunaan dua kata asing.

Akhirnya kami tidak dapat menggunakan nama lengkap ESSEL TREE dan hanya menggunakan satu kata:

ESSEL.

Saat itu saya merasa sangat sayang.

Karena nama yang saya simpan sejak awal sebenarnya adalah ESSEL TREE.

TREE hilang dari nama, tetapi tetap tinggal di logo


Saya tidak ingin makna pohonnya ikut hilang.

Karena itu identitas “에셀트리 – Essel Tree” tetap saya simpan di dalam desain logo ESSEL melalui inspirasi dari huruf awal Hangulnya.

Dengan kata lain,

TREE memang tidak lagi tertulis pada nama restoran,

tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari identitas ESSEL.

Bagi saya logo tersebut bukan sekadar sebuah desain.

Logo itu mengingatkan saya pada saat pertama kali menemukan nama Eshel ketika membaca Firman Tuhan dan pada restoran seperti apa yang dulu ingin saya bangun.

Di sinilah Warm Heart, Warm Taste bermula

Hari ini ESSEL memiliki satu pesan yang sangat penting:

Warm Heart, Warm Taste.

Bagi saya, ini bukan slogan yang baru dibuat untuk kebutuhan marketing.

Akar dari kalimat tersebut sebenarnya sudah ada sejak saya memilih nama Eshel.

Seperti pohon Eshel yang memberikan keteduhan kepada seorang musafir di tengah perjalanan yang panas,

saya ingin ESSEL menjadi lebih dari sekadar tempat menjual makanan.

Saya ingin kami

menghangatkan pelanggan melalui rasa,

dan menyambut mereka dengan hati yang hangat.

Karena itu Warm Heart bukan dimulai dari buku manual pelayanan.

Ia berawal dari pertanyaan sederhana:

Bagaimana kita memperlakukan orang yang sudah membuka pintu dan datang kepada kita?

Sedangkan Warm Taste juga bukan hanya berarti makanan yang disajikan panas.

Di dalamnya ada rasa masakan seorang nenek untuk keluarganya,

rasa yang diteruskan ke generasi berikutnya,

dan ketulusan yang sekarang ingin kami bagikan kepada pelanggan di Indonesia.

Dari satu pohon, menjadi cerita lintas generasi

Jika saya melihat kembali perjalanan ini,

Pohon Eshel → ESSEL TREE → ESSEL → Warm Heart, Warm Taste

sebenarnya bukan cerita yang terpisah.

Semuanya adalah satu cerita.

Rasa masakan yang dimulai dari seorang nenek diteruskan kepada anaknya, kemudian kepada generasi cucu.

Sama seperti sebuah pohon yang menumbuhkan akar, membesarkan cabang, dan akhirnya memberikan tempat berteduh bagi lebih banyak orang.

Hari ini rasa yang awalnya berasal dari meja makan sebuah keluarga Korea telah bertemu dengan banyak keluarga di Indonesia.

Untuk setiap pelanggan yang datang ke ESSEL

Dalam menjalankan restoran, tentu penjualan penting.

Menu penting.

Marketing juga penting.

Tetapi saya tidak ingin kami kehilangan satu pertanyaan yang lebih mendasar:

“Dengan perasaan seperti apa pelanggan pulang setelah datang ke ESSEL?”

Jika mereka datang setelah menjalani hari yang berat, semoga mereka pulang sedikit lebih ringan.

Jika datang bersama keluarga, semoga ada satu kenangan baik yang tercipta.

Jika datang bersama teman, semoga mereka banyak tertawa sambil berbagi makanan.

Dan siapa pun yang datang, saya berharap mereka merasa disambut dengan hangat.

Seperti pohon Eshel yang memberikan tempat berteduh bagi musafir di tengah terik matahari,

kami ingin ESSEL menjadi tempat di mana pelanggan dapat berhenti sejenak, makan dengan nyaman, dan merasakan kehangatan.

Itulah hati yang saya titipkan pada nama ESSEL.

Dan dari sanalah pesan kami berasal:



Warm Heart, Warm Taste

ESSEL — rasa hangat yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


#CeritaESSEL #ESSELIndonesia #EsselTree #WarmHeartWarmTaste #KoreanFoodIndonesia #CeritaLintasGenerasi

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Mencatat, Menganalisis, dan Menjalankan — Catatan Manajemen Essel JKT Bulan Mei

Kenapa Essel Rose Menjadi Juara Rose Tteokbokki yang Sesungguhnya?

Essel Sikhye: 32 Jam Proses dan Lebih dari 50 Kali Uji Coba