Sejarah ESSEL: Berani Buka di Masa Pandemi


Pada tahun 2021, ketika banyak restoran sedang berjuang untuk bertahan, kami justru mengambil keputusan yang terdengar cukup nekat.

Kami memutuskan membuka gerai pertama ESSEL.

Saat itu, ada hari-hari ketika menerima dua kelompok pelanggan saja terasa sulit. Ketika beberapa kenalan mendengar bahwa kami sedang mengerjakan interior restoran, mereka bahkan bertanya,

“Kalian serius mau buka restoran sekarang?”

Ada juga yang menganggap keputusan itu seperti sebuah kegilaan.

Namun, di tengah ketidakpastian itulah perjalanan baru ESSEL dimulai.







Membuka Saat Banyak Orang Memilih Menunggu

Pandemi COVID-19 datang ke Indonesia sedikit lebih lambat dibandingkan Korea Selatan, tetapi dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari dan bisnis sangat besar.

Memasuki tahun 2021, banyak usaha kuliner terpukul.

Restoran sepi.

Orang-orang lebih berhati-hati keluar rumah.

Tidak ada yang tahu kapan keadaan akan benar-benar kembali normal.

Kami pun takut.

Tetapi kalau terus menunggu sampai semuanya menjadi pasti, kami tidak tahu kapan bisa memulai.


Akhirnya kami memilih satu hal:

bergerak di tengah ketidakpastian.

ESSEL sebelumnya telah tumbuh melalui kimchi dan dapur keluarga.

Kami ingin membawa makanan Korea yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari—terutama gimbap dan tteokbokki—kepada lebih banyak pelanggan Indonesia.

Bagi kami, makanan bukan hanya sesuatu yang dijual.

Di dalamnya ada rasa yang diwariskan dalam keluarga, perhatian saat memasak, dan kehangatan yang ingin kami bagikan kepada pelanggan.




Kepercayaan Harus Bisa Dilihat

Ada satu keputusan yang sangat penting ketika kami membangun gerai pertama ESSEL.

Kami membuat open kitchen khusus gimbap.

Pada masa itu, kekhawatiran terhadap kebersihan dan penularan sangat tinggi. Karena itu, kami memasang pembatas akrilik yang cukup tinggi antara pelanggan dan area dapur.

Tetapi kami tidak ingin menutupi dapur.

Justru sebaliknya.

Kami ingin pelanggan bisa melihat sendiri bagaimana makanan mereka dibuat.







Dari luar, pelanggan bisa melihat bahan-bahan disusun.

Mereka bisa melihat staf menggulung gimbap satu per satu.

Dan mereka juga bisa melihat gimbap masuk ke mesin pemotong lalu terpotong dengan rapi dan seragam.

Kami berpikir sederhana.

Daripada hanya berkata,

“Makanan kami dibuat dengan bersih,”

lebih baik pelanggan melihat sendiri prosesnya.

Akrilik memang menciptakan jarak secara fisik.

Namun transparansi dapur justru membuat kepercayaan terasa lebih dekat.




Ketika Meja Makan Berhenti, Kamera Membuka Jalan

Kemudian datang masa PPKM.

Pada periode pembatasan tersebut, pelanggan tidak dapat duduk dan makan di restoran. Penjualan harus mengandalkan takeaway dan delivery.

Meja dan kursi yang sudah kami siapkan menjadi kosong.

Kami memiliki restoran, tetapi pelanggan tidak bisa makan di dalamnya.

Namun justru pada saat itulah sesuatu yang tidak kami rencanakan terjadi.

Proses membuat gimbap di open kitchen mulai direkam.

Terutama satu adegan yang sederhana:

gimbap yang baru selesai dibuat masuk ke mesin pemotong dan terpotong rapi satu per satu.





Video tersebut kemudian muncul di TikTok.

Warna-warni isi gimbap terlihat jelas.

Proses pemotongannya rapi.

Tidak membutuhkan penjelasan panjang.

Dalam beberapa detik saja, orang bisa melihat seperti apa gimbap ESSEL dan bagaimana makanan itu dibuat.

Video tersebut mulai menyebar.

Orang-orang mulai mengenal ESSEL melalui TikTok.

Dan setelah melihat videonya, mereka mulai memesan melalui delivery.





Sedikit demi sedikit, ESSEL mulai dikenal sebagai

“tempat gimbap yang pernah saya lihat di TikTok.”

Sebuah aktivitas dapur yang awalnya kami lakukan setiap hari ternyata berubah menjadi konten.

Konten itu membawa perhatian.

Perhatian berubah menjadi pesanan.

Dan pesanan delivery membuat dapur kami terus bergerak ketika meja makan masih 


Dari TikTok, Pelanggan Mulai Datang Mengenal ESSEL

Setelah ESSEL mulai dikenal, situasinya perlahan berubah.

Semakin banyak orang yang datang karena pernah melihat ESSEL melalui TikTok atau mendengar cerita dari orang lain.

Pada beberapa waktu kemudian, kami bahkan mulai melihat pelanggan menunggu dan mengantre.

Bagi kami, pemandangan tersebut sangat berarti.

Karena kami masih ingat masa ketika menerima dua kelompok pelanggan saja terasa begitu sulit.





Marketing Tidak Selalu Dimulai dari Iklan

Pengalaman tersebut mengajarkan sesuatu yang masih kami pegang sampai sekarang.

Marketing tidak selalu harus dimulai dari sebuah iklan.

Kadang-kadang marketing terbaik sudah ada di dalam restoran.

Cara staf memasak.

Cara makanan disiapkan.

Kebersihan dapur.

Cara sebuah gimbap digulung.

Bahkan cara gimbap dipotong.

Ketika semuanya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan pelanggan dapat melihatnya, aktivitas sehari-hari bisa berubah menjadi cerita yang ingin dibagikan orang.

Itulah yang terjadi pada ESSEL.

Kami tidak membuat adegan khusus untuk TikTok.

Kami hanya menunjukkan apa yang benar-benar terjadi di dapur kami.

Dan ternyata kejujuran proses itu menjadi salah satu jalan pertama pelanggan mengenal ESSEL.


Pelajaran yang Kami Bawa Sampai Hari Ini

Pandemi adalah masa yang sangat sulit bagi banyak orang.

Kami tidak ingin mengenangnya seolah-olah semuanya indah.

Tetapi masa tersebut memberikan pelajaran besar kepada kami.

Pertama, kepercayaan lebih kuat ketika pelanggan dapat melihat prosesnya.

Bukan hanya mengatakan bahwa makanan bersih, tetapi menunjukkan bagaimana makanan dibuat.

Kedua, konten yang kuat tidak selalu membutuhkan sesuatu yang dibuat-buat.

Aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari dengan baik bisa menjadi cerita yang sangat kuat.

Ketiga, ketika pelanggan tidak dapat datang kepada kita, kita harus mencari cara agar makanan dan hati kita tetap sampai kepada mereka.

Saat itu jalannya adalah TikTok dan delivery.

Hari ini mungkin jalannya berbeda.

Tetapi prinsipnya tetap sama.





Dari pengalaman itulah arti Warm Heart, Warm Taste menjadi semakin nyata bagi kami.

Bukan sekadar sebuah slogan.

Tetapi cara kami bekerja.

Membuat makanan dengan perhatian.

Menunjukkan prosesnya dengan jujur.

Dan berusaha agar setiap pelanggan yang datang ke ESSEL dapat membawa pulang sedikit kehangatan.

Dari satu open kitchen kecil di tengah pandemi,

cerita ESSEL terus berjalan sampai hari ini.

Warm Heart, Warm Taste.


Apakah Anda termasuk orang yang pertama kali mengenal ESSEL dari TikTok?

Atau pernah memesan gimbap ESSEL pada masa PPKM?

Kalau Anda masih memiliki foto, video, atau kenangan dari ESSEL pada masa itu, ceritakan kepada kami.

Mungkin cerita Anda juga merupakan bagian dari perjalanan ESSEL. 

#SejarahESSEL #ESSELMOI #GimbapJakarta #KulinerKoreaJakarta #CeritaESSEL #WarmHeartWarmTaste

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Mencatat, Menganalisis, dan Menjalankan — Catatan Manajemen Essel JKT Bulan Mei

Kenapa Essel Rose Menjadi Juara Rose Tteokbokki yang Sesungguhnya?

Essel Sikhye: 32 Jam Proses dan Lebih dari 50 Kali Uji Coba