Makanan Lezat Pun Sulit Dipilih Jika Tidak Ditemukan
Saya Song Hyejin, Mama Essel, yang mengelola brand kuliner Korea ESSEL di Indonesia. Hari ini, saya ingin membagikan cerita ESSEL yang kesepuluh.
Dalam cerita kesembilan, saya berbagi tentang satu hal penting yang saya sadari: tanpa data, kita tidak bisa melakukan analisis. Karena itu, saya mulai membangun kebiasaan mencatat, dimulai dari hal-hal kecil. Di lapangan, saya benar-benar merasakan makna dari kalimat yang selalu ditekankan oleh Profesor Kim Young-gap:
“Data yang terkumpul menjadi pengetahuan, dan pengetahuan yang terkumpul menjadi kebijaksanaan.”
Setelah memahami pentingnya pencatatan, saya mulai mempelajari pemasaran online. Dari sana, muncul satu pertanyaan baru:
Bukankah kami juga perlu mencatat dan memahami bagaimana pelanggan menemukan ESSEL, serta apa yang membuat mereka akhirnya memilih kami?
“Selezat apa pun makanan yang kami siapkan, bagaimana pelanggan dapat memilih ESSEL jika mereka tidak pernah menemukan kami?”
Dulu, saya berpikir bahwa makanan yang enak pada akhirnya akan dikenal dari mulut ke mulut. Saya percaya bahwa jika kami menggunakan bahan yang baik dan memasak dengan penuh ketulusan, pelanggan akan mengetahuinya dengan sendirinya.
Tentu saja, rasa tetap menjadi dasar utama sebuah restoran. Namun, melalui proses belajar, saya menyadari bahwa rasa yang enak saja belum cukup. ESSEL harus mudah ditemukan saat pelanggan mencari. Foto dan ulasan yang mereka lihat untuk pertama kali juga harus mampu membuat mereka merasa yakin dan nyaman untuk berkunjung.
Saat ini, pelanggan sudah mulai mengalami ESSEL bahkan sebelum membuka pintu restoran. Mereka memeriksa lokasi dan jam operasional melalui Google Maps, melihat foto serta video menu di Instagram, lalu membaca ulasan pelanggan lain sebelum memutuskan untuk datang.
Pada akhirnya, dunia online adalah pintu masuk ESSEL yang lain—sebuah pintu yang berada di luar restoran.
Ketika melihat kembali jejak digital ESSEL, saya menyadari bahwa kami belum cukup menceritakan bagaimana makanan kami disiapkan dengan sungguh-sungguh, mengapa kami sangat memperhatikan bahan halal, dan menu apa yang ingin kami jadikan pengalaman utama bagi pelanggan.
Kami sudah memiliki makanan yang baik, tetapi belum cukup baik dalam menjelaskan nilainya kepada pelanggan.
Karena itu, kami mulai memperbaikinya satu per satu.
Setiap hari, kami memeriksa ulasan terbaru serta memastikan lokasi dan informasi operasional setiap outlet tetap akurat. Kami tidak lagi hanya menampilkan foto hidangan yang sudah jadi. Kami juga mulai merekam proses di baliknya—saat membuat kaldu, meracik saus, dan menguji menu baru.
Pertanyaan yang sering diajukan pelanggan kami jawab melalui konten. Kami juga berusaha menunjukkan apa yang benar-benar terjadi di outlet tanpa melebih-lebihkan kenyataan.
Saya akhirnya memahami bahwa pemasaran online bukan sekadar membuat sebuah brand terlihat menarik. Pemasaran online adalah cara untuk menjawab rasa ingin tahu pelanggan sebelum mereka datang, memberi mereka rasa aman, dan menyampaikan ketulusan ESSEL lebih dahulu.
Sama seperti kami menyambut pelanggan dengan hangat di restoran, kami juga harus menyambut mereka secara online melalui informasi yang akurat dan jawaban yang tulus.
Sampai sekarang, saya masih belajar setiap hari. Saya memperhatikan konten seperti apa yang membuat pelanggan berhenti sejenak, kata kunci apa yang mereka gunakan untuk menemukan ESSEL, serta pujian dan ketidaknyamanan apa yang muncul dalam ulasan mereka.
Saya pun belajar bahwa catatan yang dibuat dengan konsisten agar pelanggan benar-benar memahami ESSEL jauh lebih berharga daripada satu konten dengan jumlah tayangan tinggi.
Ke depannya, konten online ESSEL akan berpegang pada tiga prinsip berikut:
- Kami tidak akan menampilkan sesuatu yang berbeda dari kondisi outlet yang sebenarnya.
- Kami akan menyampaikan informasi tentang menu, halal, dan outlet secara jelas dan akurat.
- Kami akan terus merekam kisah tentang orang-orang, ketulusan, dan kehangatan lintas generasi yang ada di balik setiap hidangan.
Membuat makanan yang lezat dan menyampaikan nilainya dengan baik kepada pelanggan bukanlah dua pekerjaan yang terpisah. Keduanya merupakan tanggung jawab kami kepada pelanggan.
Kini, ESSEL tidak ingin hanya menjadi brand yang menyiapkan makanan enak lalu menunggu pelanggan datang. Kami ingin menjadi brand yang mudah ditemukan saat pelanggan membutuhkan, dipercaya, dan akhirnya dipilih dengan yakin.
Agar cita rasa hangat yang diwariskan lintas generasi dapat tersampaikan dengan tulus, bahkan melalui dunia online, hari ini saya kembali memulainya dari satu foto dan satu kalimat sederhana.
Dalam cerita kesebelas, saya akan berbagi tentang sertifikasi halal ESSEL dan standar yang dapat diperiksa oleh pelanggan agar mereka dapat menikmati setiap menu dengan lebih tenang.
#ESSELIDN #MamaEssel #CeritaESSEL #PemasaranOnline #BisnisKuliner #ProfesorKimYoungGap #WarmHeartWarmTaste



댓글
댓글 쓰기