Ketika Kembali Menjadi Murid di Usia 60 Tahun, Saya Mulai Melihat ESSEL dengan Cara yang Berbeda

 

Saya Song Hyejin, Mama Essel, yang mengelola gerai milik perusahaan dan gerai waralaba ESSEL, sebuah brand bunsik Korea di Indonesia.

Hari ini saya ingin membagikan kisah ketujuh ESSEL.

Pada September 2024, di usia 60 tahun, saya kembali menjadi seorang murid.

Rasa takut karena tidak mampu menjelaskan mengapa penjualan menurun mendorong saya untuk mulai belajar. Mungkin ada yang menganggap usia saya sudah terlambat untuk memulai lagi. Namun, ketika memikirkan para pelanggan yang telah mempercayai kami, para karyawan, dan para mitra waralaba, saya tahu bahwa saya tidak boleh menundanya lagi.




Belajar Tidak Langsung Memberi Jawaban, tetapi Mengubah Pertanyaan Saya

Saat mencari tahu apa yang harus saya pelajari lebih dahulu, saya menemukan kelas Profesor Kim Young-gap (김영갑 교수님). Demi belajar, saya mencari tempat tinggal di Korea dan selama tiga bulan menjalani hari-hari seperti seseorang yang sedang mempersiapkan ujian besar.

Setiap Senin saya belajar kecerdasan buatan, setiap Selasa tentang konsep, dan setiap Rabu tentang pemasaran online. Saya memulai tiga bidang sekaligus. Pada masa itu, memikirkan bagaimana setiap pelajaran dapat diterapkan di ESSEL menjadi bagian utama dari keseharian saya.

Mulai belajar bukan berarti saya langsung menemukan semua jawaban. Namun, pertanyaan yang saya ajukan mulai berubah.

Dulu saya hanya bertanya, “Mengapa penjualan turun?” Kini saya mulai memeriksa lebih dalam: di gerai mana perubahan terjadi, pada hari dan jam berapa, menu apa yang terdampak, serta bagaimana respons pelanggan berubah. Sebelum mengambil kesimpulan berdasarkan perasaan, saya mulai menentukan data apa yang harus dicatat. Setelah menjalankan perubahan sekecil apa pun, saya berusaha memeriksa kembali hasilnya.

Belajar tidak sekadar memberi saya jawaban. Belajar mengajarkan saya cara melihat masalah dengan lebih tepat.

Semakin Belajar, Semakin Banyak Hal yang Perlu Diperbaiki

Ketika mulai belajar, pekerjaan saya tidak berkurang. Justru berbagai masalah yang sebelumnya tidak terlihat mulai muncul satu per satu. Setiap hari, semakin banyak hal yang perlu diperiksa dan diperbaiki.

Saya meninjau kembali alur pergerakan di dalam gerai, cara menu ditampilkan, waktu tunggu pelanggan, pelayanan karyawan, hingga data yang harus kami catat. Bahkan toilet, tempat pelanggan singgah sejenak, tidak lagi dapat saya abaikan.

Bagi pelanggan, restoran bukan sekadar tempat untuk makan. Sejak mereka melangkah masuk hingga selesai bersantap dan keluar dari pintu, semua yang mereka lihat, dengar, dan rasakan merupakan bagian dari pengalaman ESSEL.



“Bu, Sekarang Kami Sampai Takut Menerima Pesan dari Ibu”

Setiap kali memahami sesuatu yang baru dari kelas, saya langsung menghubungi tim di Indonesia.

“Bagian ini sekarang dijalankan seperti apa?”
“Tolong periksa dan kirimkan fotonya.”
“Mulai sekarang, data ini juga perlu dicatat.”

Karena hal yang perlu diperiksa terus bertambah, para karyawan pernah berkata bahwa mereka sampai takut menerima pesan dari saya. Begitu mendesaknya perasaan saya saat itu. Saya ingin melihat kembali setiap bagian dari ESSEL.

Namun, tujuan saya belajar bukanlah untuk membuat pekerjaan karyawan menjadi semakin berat. Saya ingin mengurangi instruksi yang tidak jelas dan membangun perusahaan yang, ketika menghadapi masalah, tidak langsung mencari siapa yang salah, tetapi bersama-sama mencari penyebabnya. Karena itu, saya pun berusaha menjelaskan terlebih dahulu mengapa setiap pemeriksaan diperlukan dan memastikan hasilnya benar-benar menjadi perbaikan nyata.

Kehangatan Baru Terasa Ketika Hadir dalam Setiap Detail

Pesan ESSEL, “Warm Heart, Warm Taste”, tidak cukup diwujudkan hanya melalui kata-kata yang hangat.

Ketulusan kami baru dapat dirasakan pelanggan ketika rasa dan suhu makanan, waktu tunggu, kebersihan gerai, satu kalimat dari karyawan, hingga kondisi toilet diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Setelah mulai belajar, saya memahami bahwa kehangatan pun membutuhkan standar, pencatatan, dan pemeriksaan yang dilakukan secara konsisten.



Belajar di Usia 60 Tahun Membuat Saya Melihat ESSEL Kembali

Belajar di usia 60 tahun tidak menjadikan saya seorang pemimpin yang merasa lebih tahu. Sebaliknya, saya justru menyadari betapa banyak hal yang belum saya ketahui. Namun, ketidaktahuan itu tidak lagi terlalu menakutkan, karena saya belajar bahwa saya dapat terus bertanya, mencatat, menjalankan, lalu memperbaikinya kembali.

Ketika pemimpin mulai belajar terlebih dahulu, laporan penjualan, kondisi gerai, bahkan satu kalimat dari pelanggan pun terlihat berbeda. Perubahan ESSEL tidak dimulai dari sebuah pernyataan besar. Perubahan itu dimulai ketika hari ini kami kembali melihat satu hal kecil yang kemarin terlewatkan.

Dalam kisah berikutnya, saya akan membagikan bagaimana pembelajaran tentang kecerdasan buatan, salah satu dari tiga bidang yang saya pelajari, mulai mengubah pertanyaan manajemen ESSEL dan cara kami bekerja.

#BelajarDiUsia60 #BelajarBisnisKuliner #PerjalananPertumbuhanESSEL #KisahESSEL #MamaEssel #ProfesorKimYoungGap #김영갑교수님 #WarmHeartWarmTaste

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Mencatat, Menganalisis, dan Menjalankan — Catatan Manajemen Essel JKT Bulan Mei

Kenapa Essel Rose Menjadi Juara Rose Tteokbokki yang Sesungguhnya?

Essel Sikhye: 32 Jam Proses dan Lebih dari 50 Kali Uji Coba