Empat Resep di Balik Saus Tteokbokki ESSEL

 



Kenali alasan ESSEL memiliki empat resep saus tteokbokki dan bagaimana 37 bahan menghadirkan tujuh rasa khas dalam Signature Rose Tteokbokki.

Halo, saya Song Hyejin, pendiri dan pemimpin ESSEL IDN. Saya membawa cita rasa Korea dan kisah hangat di baliknya kepada keluarga-keluarga di Indonesia.

Mengapa satu merek membutuhkan empat resep untuk satu jenis saus?

Bagi ESSEL, jawabannya bukan karena rasa kami boleh berubah. Justru sebaliknya: empat resep membantu kami menjaga rasa tetap konsisten ketika merek gochujang yang tersedia harus berubah karena kondisi impor atau persediaan.

Di balik saus tteokbokki ESSEL, ada upaya untuk menjaga akar rasa Korea sekaligus mengolahnya menjadi pengalaman yang relevan bagi pelanggan masa kini. Dari dasar saus tradisional itulah lahir Signature Rose Tteokbokki, perpaduan 37 bahan yang menghasilkan tujuh rasa dalam satu hidangan.

Mengapa satu resep gochujang belum tentu cukup?

Gochujang adalah salah satu pusat rasa dalam tteokbokki. Namun, setiap merek gochujang mempunyai tingkat pedas, manis, asin, aroma fermentasi, warna, dan kekentalan yang berbeda.

Mengganti merek lalu menggunakan jumlah yang sama belum tentu menghasilkan rasa akhir yang sama.

Di Indonesia, bahan Korea terkadang tidak dapat diimpor tepat waktu. Ada pula saat jumlah barang yang datang tidak sesuai dengan kebutuhan produksi.

Dalam keadaan seperti itu, kami mungkin perlu memakai merek pengganti yang telah dipilih. Namun, pelanggan tidak seharusnya menerima rasa yang berubah hanya karena kondisi pasokan berubah.

Karena itulah ESSEL menyusun empat resep saus yang disesuaikan dengan karakter merek gochujang yang berbeda.

Empat resep tersebut bukan berarti empat kali kegagalan atau empat prototipe. Semuanya merupakan standar alternatif untuk satu tujuan: menjaga karakter rasa ESSEL ketika bahan utama yang tersedia tidak sama.

Jika gochujang berubah, keseimbangan komponen lain juga perlu disesuaikan. Tingkat pedas dan manis diperiksa kembali, demikian pula kekentalan saus dan kemampuannya melapisi tteok.

Bahan tidak sekadar diganti; keseluruhan keseimbangan rasa harus dibangun kembali.


Menilai rasa lebih dari sekadar “enak”

Ketika mengembangkan saus, saya tidak ingin berhenti pada satu kata, “enak”.

Tim perlu memperhatikan aroma pada suapan pertama, tingkat manis, rasa pedas yang tertinggal, rasa gurih, kekentalan, dan kenyamanan rasa hingga suapan terakhir.

Perubahan pada satu komponen dapat menggerakkan seluruh rasa. Pedas yang terlalu kuat dapat membuat rasa akhir terasa kasar.

Saus yang terlalu encer tidak cukup melapisi tteok, sedangkan saus yang terlalu kental dapat terasa berat. Karena itu, formula perlu dimasak dengan kondisi yang sama, lalu dibandingkan berdasarkan kriteria yang sama.

Masukan pelanggan juga penting, terutama mengenai keseimbangan pedas, manis, dan creamy. Namun, satu komentar tidak langsung diubah menjadi formula baru.

Masukan perlu dilihat bersama hasil masak di dapur, kondisi bahan, dan kemampuan tim gerai menghasilkan rasa yang sama.

Dengan cara ini, suara pelanggan membantu perbaikan tanpa membuat standar berubah-ubah setiap hari.


Signature Rose sebagai warisan rasa yang hidup

Bagi saya, menjaga tradisi tidak berarti membekukan rasa lama. Inti rasanya perlu dijaga, lalu diterjemahkan kembali agar dapat dinikmati oleh generasi hari ini.

Inilah yang saya sebut sebagai warisan rasa yang hidup.

Contohnya adalah Signature Rose Tteokbokki. Kami memulai dari saus tteokbokki tradisional, kemudian menambahkan susu, krim, keju, dan bahan lainnya.

Setelah keseimbangannya disusun kembali, terciptalah Rose Tteokbokki khas ESSEL yang memadukan 37 bahan menjadi tujuh rasa.

Rasa pedas dan dalam dari saus dasarnya tetap harus terasa. Pada saat yang sama, susu dan krim memberi kelembutan, sedangkan keju menambah kekayaan rasa.

Creamy tidak boleh menutupi rasa pedas sepenuhnya, dan pedas tidak boleh menghilangkan kelembutan Rose. Keduanya harus menyatu dari suapan pertama hingga terakhir.

Inilah cara ESSEL meneruskan rasa antargenerasi: bukan dengan menyalin masa lalu secara kaku, melainkan dengan menjaga akarnya dan memberinya bahasa rasa yang baru.

Mengisi kembali rasa dari bahan yang tidak digunakan

Beberapa masakan Korea menggunakan cooking wine atau cuka fermentasi untuk membentuk aroma dan rasa. Namun, kami tidak menggunakan cooking wine biasa yang mengandung alkohol.

Sebagai gantinya, ESSEL membuat bumbu cair dengan rasa yang dibangun dari kombu, buah, dan jamur shiitake.


Kami juga memilih bahan cuka yang dapat digunakan di Indonesia, lalu menambahkan buah agar keasamannya lebih seimbang.

Bagi kami, penyesuaian untuk kebutuhan konsumen Muslim tidak cukup hanya dengan menghilangkan satu bahan. Rasa yang kosong perlu dibangun kembali dengan bahan lain secara sungguh-sungguh.

Riset saus berakhir di panci gerai

Saus yang konsisten dari pabrik belum tentu memberi hasil yang sama jika jumlah air, besar api, urutan memasukkan bahan, atau waktu berhenti memasak berbeda.

Karena itu, ESSEL memiliki panduan terpisah untuk Original Tteokbokki dan Signature Rose Tteokbokki, mulai dari penakaran hingga urutan memasak.

Satu staf yang pandai memasak belum cukup. Staf lain yang mengikuti panduan yang sama juga harus dapat menghasilkan rasa dan kekentalan yang sama.

Bagi saya, riset satu saus baru benar-benar selesai ketika pelanggan dapat menikmati karakter rasa ESSEL yang sama di meja mereka.

Empat resep mempunyai satu tujuan: menjaga rasa di tengah perubahan pasokan.

Sementara itu, 37 bahan dan tujuh rasa dalam Signature Rose Tteokbokki menunjukkan bagaimana rasa tradisional dapat tumbuh menjadi warisan baru.

Warm Heart, Warm Taste.

Untuk informasi terbaru mengenai ketersediaan menu, porsi, tingkat pedas, dan harga, silakan hubungi gerai ESSEL terdekat.

Datang dan rasakan sendiri warisan rasa ESSEL dalam Signature Rose Tteokbokki.

#ESSELIDN #SausTteokbokkiESSEL #SignatureRoseTteokbokki #KoreanFoodIndonesia #CeritaESSEL

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Mencatat, Menganalisis, dan Menjalankan — Catatan Manajemen Essel JKT Bulan Mei

Kenapa Essel Rose Menjadi Juara Rose Tteokbokki yang Sesungguhnya?

Essel Sikhye: 32 Jam Proses dan Lebih dari 50 Kali Uji Coba