Mengapa ESSEL Lahir di Indonesia

 

Saya memulai ESSEL di Indonesia karena satu alasan sederhana.

Saya ingin lebih banyak orang Indonesia mengenal makanan Korea bukan hanya sebagai makanan yang sangat manis, sangat asin, atau sangat pedas, tetapi sebagai makanan yang mempunyai rasa alami, keseimbangan, dan kedalaman.

Saya juga percaya bahwa di Indonesia, makanan yang baik bukan hanya soal rasa. Bagi konsumen Muslim, rasa aman dalam memilih makanan juga sangat penting.

Itulah alasan ESSEL lahir.

Perjalanan Kami Dimulai dari Kimchi pada 2013



Cerita ESSEL sebenarnya tidak dimulai dari sebuah restoran.

Pada 2013, saya mulai menjual Esseltree Kimchi di Indonesia.

Saat itu K-food belum sepopuler sekarang. Kimchi, tteokbokki, gimbap, dan berbagai makanan Korea belum menjadi bagian dari keseharian banyak orang Indonesia seperti sekarang.

Saya juga belum berpikir untuk membangun banyak restoran.

Saya hanya ingin memulai dari sesuatu yang paling saya kenal: makanan yang sudah lama hadir di meja makan keluarga kami.



Dari satu kemasan kimchi ke kemasan berikutnya, saya mulai belajar tentang pelanggan Indonesia.

Saya belajar rasa seperti apa yang mereka sukai, aroma apa yang masih terasa asing, dan bagaimana memperkenalkan makanan Korea kepada orang yang mungkin baru pertama kali mencobanya.

Pengalaman itu kemudian menjadi dasar ESSEL.

Apakah Lokalisasi Harus Mengubah Akar Rasa?

Semakin lama saya tinggal dan menjalankan usaha di Indonesia, semakin besar pula popularitas makanan Korea.

Saya senang melihat perkembangan itu.

Namun ada satu hal yang membuat saya terus berpikir.

Dalam proses menyesuaikan makanan dengan selera lokal, saya melihat beberapa makanan Korea menjadi terlalu manis, terlalu asin, atau hanya menonjolkan rasa pedas.

Tentu saja saya percaya bahwa adaptasi itu perlu.

Saya sendiri terus belajar dari konsumen Indonesia.

Tetapi saya selalu mempunyai satu pertanyaan.

“Apakah makanan Korea harus kehilangan akar rasanya agar bisa diterima di Indonesia?”

Menurut saya, tidak.

Makanan Korea bukan hanya soal pedas.

Ada rasa manis alami dari bahan, kedalaman dari fermentasi, rasa kaldu, sayuran, minyak wijen, serta keseimbangan berbagai bumbu.

Saya ingin pelanggan Indonesia juga mengenal sisi makanan Korea seperti itu.

“Resep Ibu dan Saya”

Ketika mencari arah rasa untuk ESSEL, saya tidak memulainya dari tren restoran.

Saya kembali ke rumah.

Ke makanan yang dibuat ibu saya dan yang saya makan sejak kecil.

Namun saya juga tidak ingin sekadar menyalin resep lama.

Saya sudah lama hidup di Indonesia dan bertemu dengan banyak pelanggan. Dari mereka saya belajar bagaimana generasi muda menikmati makanan, rasa apa yang mereka sukai, dan hal apa yang membuat makanan Korea terasa terlalu asing.

Karena itu, saya menggabungkan dua pengalaman.

Rasa yang saya terima dari ibu saya dan pengalaman yang saya bangun sendiri di Indonesia.

Saya menyebutnya “resep ibu dan saya.”

Bagi saya, tradisi bukan berarti semuanya harus dibuat persis seperti dulu.

Cara penyajian bisa berubah. Tampilan bisa menjadi lebih modern. Menu juga bisa berkembang mengikuti generasi sekarang.

Tetapi ada satu prinsip yang ingin saya jaga.

Kami boleh berubah mengikuti zaman, tetapi kami tidak ingin kehilangan akar rasa.

Maret 2021, ESSEL Pertama Dibuka di MOI




Sekitar delapan tahun setelah memulai Esseltree Kimchi, pada Maret 2021, kami membuka gerai ESSEL pertama di MOI, Jakarta.

Saat melihat kembali foto-foto lama, saya masih ingat prosesnya.

Ada ruang kosong, tangga lama, dan bagian-bagian bangunan yang harus diperbaiki.

Kami memikirkan posisi dapur, mencoba menu bersama tim, memilih warna ruangan, dan mempertimbangkan desain logo berkali-kali.


Karena itu, MOI bukan hanya gerai pertama bagi saya.

Di sanalah ide yang saya bawa sejak 2013 untuk pertama kalinya berubah menjadi sebuah restoran.

Bagaimana membawa rasa Korea kepada pelanggan Indonesia tanpa kehilangan akarnya?

Pertanyaan itu menjadi dasar ESSEL.

K-food Halal Indonesia: Kami Mulai dari Bahan

Di Indonesia, kami tidak bisa mengabaikan kebutuhan konsumen Muslim.

Saya tidak ingin kata halal hanya menjadi tulisan dalam materi promosi.

Kalau kami benar-benar ingin menghormati pelanggan Muslim, kami harus memulainya dari bahan dan proses.

Salah satu perjalanan yang paling panjang adalah membuat sikhye, minuman tradisional Korea.








Untuk membuat rasa sikhye Korea dengan bahan yang tersedia di Indonesia, kami menggunakan barley dengan kulit, barley, dan beras ketan serta mencoba berbagai kombinasi.

Kami mengubah komposisi bahan, proses perkecambahan, pengeringan, kondisi malt, waktu fermentasi, dan tingkat kemanisan.

Lebih dari 50 kali percobaan dilakukan.


Perubahan kecil pada bahan atau proses ternyata bisa menghasilkan rasa yang berbeda.

Karena itu kami terus membuat, mencicipi, membandingkan, lalu memperbaikinya kembali.

[FOTO 8]

Beberapa sampel sikhye dibuat dengan kondisi berbeda dan diletakkan berdampingan untuk membandingkan warna, aroma, rasa, serta keseimbangannya.

Kami juga tidak hanya mengandalkan rasa saat mencicipi.



Kami mengukur tingkat kemanisan secara langsung selama proses pengembangan.

Saat ini, standar sikhye ESSEL adalah 14 Brix.

Namun tujuan kami bukan sekadar mencapai angka tertentu.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Bisakah kami memenuhi standar halal tanpa kehilangan rasa khas sikhye Korea?”

Kami juga menghadapi tantangan dengan bahan yang biasa digunakan sebagai cooking wine dalam masakan Korea.

Kami tidak ingin sekadar menghilangkannya dan mengorbankan rasa.

Karena itu, kami menjalani proses pengembangan untuk membuat bahan masak yang sesuai dengan standar halal sekaligus tetap memberikan karakter rasa yang dibutuhkan dalam makanan Korea.


Setelah melalui proses panjang tersebut, ESSEL memperoleh sertifikasi halal pada Mei 2026.

Bagi saya, halal bukan sekadar sebuah logo.

Halal adalah hasil dari proses kami memikirkan kembali bahan dan cara memasak demi menghormati konsumen Muslim Indonesia tanpa melepaskan akar rasa Korea.

Janji Sederhana ESSEL




ESSEL akan terus berubah.

Kami akan membuat menu baru, mencoba cara penyajian baru, dan terus belajar dari generasi pelanggan berikutnya.

Namun ada dua hal yang ingin saya jaga.

Pertama, kami boleh berubah mengikuti zaman, tetapi kami tidak ingin kehilangan akar rasa.

Kedua, kami ingin pelanggan mengetahui apa yang mereka makan dan bisa memilihnya dengan rasa lebih tenang.

Perjalanan yang dimulai dari Esseltree Kimchi pada 2013, kemudian menjadi gerai pertama ESSEL pada Maret 2021, dan berlanjut hingga memperoleh sertifikasi halal pada Mei 2026, belum selesai.

Saya masih membawa pertanyaan yang sama.

“Bagaimana kami bisa memperkenalkan rasa Korea dengan lebih baik kepada Indonesia?”

Saya rasa, menjawab pertanyaan itulah perjalanan ESSEL selanjutnya.

Kalau Anda pernah mencoba makanan Korea di Indonesia, saya juga ingin mendengar pendapat Anda.

Rasa seperti apa yang membuat Anda berpikir, “Ini benar-benar terasa seperti makanan Korea”?

Ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar.

Simpan atau bagikan artikel ini jika Anda ingin mengikuti perjalanan ESSEL selanjutnya.

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Mencatat, Menganalisis, dan Menjalankan — Catatan Manajemen Essel JKT Bulan Mei

Kenapa Essel Rose Menjadi Juara Rose Tteokbokki yang Sesungguhnya?

Essel Sikhye: 32 Jam Proses dan Lebih dari 50 Kali Uji Coba