My Rose ESSEL: Satu Menu, Dua Kebiasaan Pelanggan yang Berbeda


Di ESSEL, kami percaya bahwa satu menu yang baik belum tentu memiliki peran yang sama bagi setiap pelanggan.

Ada pelanggan yang datang sendiri. Ada yang ingin take away atau delivery. Ada juga yang datang bersama keluarga dan teman, lalu ingin menikmati berbagai menu Korea dalam satu meja.


Dari kebiasaan tersebut, lahirlah My Rose, Rose Tteokbokki khas ESSEL dalam porsi personal.

Mengapa ESSEL Membuat My Rose?

Selama ini, Sharing Rose menjadi salah satu pilihan favorit untuk dinikmati bersama. Namun, kami juga menemukan beberapa kebutuhan yang berbeda.

Ada pelanggan yang ingin menikmati Rose seorang diri, tetapi merasa porsi sharing terlalu banyak. Ada pula pelanggan yang tetap ingin memesan Rose, Gimbap, chicken, dan minuman tanpa membuat jumlah makanan di meja menjadi berlebihan.

My Rose dibuat untuk menjawab kebutuhan itu.

My Rose bukan sekadar Rose dengan harga lebih rendah. Menu ini dirancang sebagai pilihan yang lebih sesuai untuk:

  • Pelanggan yang datang sendiri
  • Pesanan take away dan delivery
  • Pelanggan yang baru pertama kali mencoba Rose ESSEL
  • Pelanggan yang ingin menikmati lebih banyak variasi menu
  • Pelanggan yang tetap ingin memadukan Rose dengan Gimbap

Pada saat artikel ini ditulis, My Rose sedang diuji coba di ESSEL MOI dan ESSEL Bekasi dengan harga Rp69.000.

Produk yang Sama, Respons Pelanggan yang Berbeda

Kami memulai uji coba di dua outlet. Hasil awalnya cukup menarik.

Di salah satu outlet, banyak pelanggan baru datang dan mencoba ESSEL. My Rose membantu mereka memulai dengan porsi yang terasa lebih mudah dipilih. Setelah itu, banyak dari mereka juga memesan Gimbap dan menu pendamping lainnya.

Di outlet tersebut, My Rose berpotensi menjadi menu pertama yang memperkenalkan pelanggan baru pada pengalaman Rose dan Gimbap khas ESSEL.

Namun, situasinya berbeda di outlet yang lain.

Sebagian besar pembeli My Rose di sana merupakan pelanggan lama. Hanya sedikit yang benar-benar baru pertama kali datang ke ESSEL.

Bagi kami, hal ini menimbulkan pertanyaan penting.

Apakah pelanggan lama datang kembali karena ingin mencoba My Rose?

Apakah My Rose membuat mereka lebih sering berkunjung?

Atau apakah pelanggan yang biasanya memesan Sharing Rose hanya berpindah ke porsi yang lebih kecil?

Jika My Rose mendorong pelanggan lama untuk datang lebih cepat atau melakukan kunjungan tambahan, berarti menu ini memberikan pengalaman baru yang positif.

Namun, jika My Rose hanya menggantikan Sharing Rose, maka kami perlu menata kembali cara menu ini direkomendasikan.

Bukan Hanya Menghitung Berapa Banyak yang Terjual

Kami belajar bahwa keberhasilan menu baru tidak bisa dinilai hanya dari jumlah porsinya.

Karena itu, selama masa uji coba kami juga memperhatikan:

  • Apakah pelanggan baru atau pelanggan lama yang memilih My Rose
  • Alasan pelanggan memilih porsi personal
  • Menu apa yang biasanya dipesan pelanggan lama
  • Apakah My Rose dipesan bersama Gimbap
  • Apakah pelanggan memesan lebih banyak variasi menu
  • Apakah pesanan berasal dari dine in, take away, atau delivery

Dari data tersebut, kami dapat memahami peran My Rose dengan lebih tepat.

Mungkin My Rose cocok sebagai menu perkenalan bagi pelanggan baru. Mungkin juga lebih sesuai untuk pelanggan yang datang sendiri, take away, dan delivery. Sementara itu, Sharing Rose tetap menjadi pilihan yang lebih cocok untuk dinikmati bersama keluarga dan teman.



My Rose atau Sharing Rose?

Pilih My Rose jika kamu:

  • Datang sendiri
  • Ingin porsi personal
  • Memesan take away atau delivery
  • Ingin mencoba Rose sambil memesan beberapa menu lain

Pilih Sharing Rose jika kamu:

  • Datang bersama keluarga atau teman
  • Ingin menikmati Rose sebagai menu utama untuk berbagi
  • Menyukai pengalaman makan bersama dalam satu meja

Apa pun pilihannya, jangan lupa mencoba Rose bersama Gimbap. Mencelupkan Gimbap ke dalam saus Rose adalah salah satu cara menikmati menu ESSEL yang paling kami sukai.

Mengapa Kami Tidak Langsung Menjualnya di Semua Outlet?

Beberapa outlet lain sudah meminta agar My Rose segera dijual. Namun, kami memilih untuk mengamati respons pelanggan selama satu minggu lagi sebelum memperluasnya.

Kami tidak ingin menghadirkan menu baru hanya karena terlihat cepat terjual. Kami ingin memastikan bahwa menu tersebut benar-benar membuat pengalaman pelanggan menjadi lebih baik.

Bagi kami, pelayanan yang hangat bukan berarti selalu menawarkan menu yang lebih banyak atau lebih mahal.

Pelayanan yang hangat berarti membantu setiap pelanggan menemukan porsi dan pilihan yang paling sesuai—porsi personal untuk yang datang sendiri dan porsi sharing untuk mereka yang ingin menikmati kebersamaan.

Itulah cara ESSEL terus belajar dari pelanggan.

Bukan hanya melihat satu piring yang terjual, tetapi memahami bagaimana satu piring dapat membuat kunjungan pelanggan menjadi lebih nyaman, hangat, dan berkesan.

Warm Heart, Warm Taste.

Sudah mencoba My Rose di ESSEL MOI atau ESSEL Bekasi? Ceritakan kepada kami: kamu lebih memilih My Rose atau Sharing Rose?



댓글

이 블로그의 인기 게시물

Mencatat, Menganalisis, dan Menjalankan — Catatan Manajemen Essel JKT Bulan Mei

Kenapa Essel Rose Menjadi Juara Rose Tteokbokki yang Sesungguhnya?

Essel Sikhye: 32 Jam Proses dan Lebih dari 50 Kali Uji Coba